Wednesday, December 9, 2015

Ilmuan indonesia yang mendunia

Kita seringkali merasa pesimis dengan kondisi bangsa yang seakan-akan penuh dengan kepentingan dan sandiwara, baik dalam bentuk sinetron maupun debat politik di televisi. Kebanyakan berita pun menimbulkan tendensi negatif yang seakan-akan mengubur rasa optimisme terhadap kemajuan bangsa. Tindak kriminal semacam pencurian, pemerkosaan, dan pembunuhan kerap kali menghiasi layar kaca. Seperti itukah gambaran keseluruhan bangsa kita? Tidak adakah hal positif yang dapat diangkat dari bangsa ini?
Sejatinya, Indonesia tidak akan pernah kehabisan kecerdasan sumber daya manusianya. Itulah faktanya. Meskipun belum tentu minum obat masuk angin cair yang terstandardisasi, mereka dan temuannya adalah bukti nyata sumbangsih bangsa Indonesia untuk kelanjutan peradaban dunia khususnya pada bidang teknologi. Mereka dan temuannya hanya perlu 'ditemukan', diberikan 'panggung' untuk memperlihatkan hasil temuan mereka.
Siapa sajakah mereka? Kami akan menyajikannya untuk Anda. Berikut 5 Temuan Indonesia untuk Dunia!

1. Penemuan Teknologi 4G

 Temuan Indonesia
Teknologi komunikasi semakin mengalami kemajuan berarti. Salah satunya ialah teknologi 4G yang menawarkan sensasi kecepatan koneksi lebih baik daripada ‘sekedar’ 3G apalagi Edge yang kini terasa begitu kuno. Namun, siapakah penemunya?
Dialah Khoirul Anwar. Sebagaimana dikutip dari Bisnis.com, Khoirul Anwar adalah alumni Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung dengan predikat cum laude pada tahun 2000. Tidak hanya menemukan teknologi 4G, ia juga sekaligus merupakan pemilik hak paten teknologi komunikasi terdepan itu.
Lulus dari ITB, Khorul melanjutkan pendidikannya di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) dan memperoleh gelar master di tahun 2005. Setahun kemudian, penghargaan bertajuk “IEEE Best Student Paper Award of IEEE Radio and Wireless Symposium (RWS)” diraihnya di California. Tiga tahun setelah menamatkan studi pascasarjananya, pria ini meraih gelar doktornya pada almamater yang sama, NAIST.
Masih dari ulasan Bisnis.com, penemuan teknologi 4G berbasis OFDM diawalinya dari ide mengurangi daya transmisi yang berguna untuk meningkatkan kecepatan transmisi data. Penurunan daya dilakukan hingga 5dB saja (100.000 = 10 pangkat 5 kali lebih kecil dari teknologi sebelumnya). Hasilnya, kecepatan transmisi jadi meningkat.
Pada paten keduanya, Khoirul Anwar kembali membuat dunia kagum. Kali ini adalah menghapus sama sekali guard interval/GI. Tentu saja hal ini malah membuat frekuensi yang berbeda akan bertabrakan alih-alih menambah kecepatan. Namun, anak Indonesia asal Kediri mengompensasi risiko tersebut dengan mengembangkan algoritma khusus di laboratorium. Hasilnya interferensi tersebut dapat diatasi dengan unjuk kerja yang sama seperti sistem biasa yang menggunakan GI.
Asisten Profesor di Japan Advance Institute of Science and Technologi (JAIST) School of Information Science ini terus mengasah kemampuannya. Meski berprestasi cemerlang di Jepang, Khoirul Anwar masih menyimpan keinginan untuk kembali ke Indonesia jika telah menjadi salah satu tokoh terkemuka di bidang telekomunikasi.

2. Teori ‘Crack’ pada Pesawat

 Temuan Indonesia
Apabila pernah menonton film Habibie & Ainun, Anda tentu teringat satu hal menarik dalam salah satu adegannya. Dalam film yang dibintangi oleh Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari tersebut, terdapat satu adegan dimana Ainun (diperankan oleh Bunga) memegang potongan artikel tentang Habibie sebagai penemu teori keretakan pesawat. Teori itulah yang membuat Habibie dikenal sebagai “Mr.Crack”.
Habibie dikenal sebagai Mr.Crack karena keahliannya menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang. Dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi kedirgantaraan, kemudian mengenal hal ini sebagai Teori Habibie, Faktor Habibie, atau Fungsi Habibie.
Sebelum titik crack bisa dideteksi secara dini, para insinyur mengantisipasi kemungkinan muncul keretakan konstruksi dengan cara meninggikan faktor keselamatannya (Safety Factor/SF). Caranya ialah dengan meningkatkan kekuatan bahan konstruksi pesawat, yaitu baja, jauh di atas angka kebutuhan teoritisnya.
Peningkatan kekuatan material konstruksi tentu menimbulkan konsekuensi berupa massa pesawat yang lebih berat. Kekurangan ini disiasati dengan penggunaan campuran aluminium dengan baja sebagai material utama pesawat. Sifat aluminium yang ringan dan baja yang kuat dipercaya merupakan solusi atas konstruksi pesawat yang kuat namun tetap ringan.
Setelah titik crack bisa dihitung, derajat SF bisa diturunkan. Misalnya dengan memilih campuran material sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Dalam fuselage (tubuh pesawat) dan sayap pesawat, porsi baja semakin dikurangi. Sebaliknya, penggunaan aluminium makin dominan. Dalam dunia kedirgantaraan, terobosan ini dikenal dengan sebutan Faktor Habibie.
Faktor Habibie bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10 persen dari bobot sebelumnya. Bahkan, angka penurunan ini bisa mencapai 25 persen setelah Habibie menyusupkan material berupa karbon komposit ke dalam fuselage.
Namun pengurangan berat ini tak membuat maximum take off weight (total bobot pesawat ditambah penumpang dan bahan bakar) ikut merosot. Dengan begitu, secara umum daya angkut pesawat meningkat dan daya jelajahnya makin jauh.
Faktor Habibie ternyata juga punya peran dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian per bagian dari kerangka pesawat. Dengan perhitungan titik crack yang akurat, teknologi sambungan antara fuselage yang berbentuk silinder dan sisi sayap yang berbentuk oval dapat terus dikembangkan mampu menahan tekanan udara saat pesawat take off (lepas landas). Begitu juga pada titik sambungan antara badan pesawat dan landing gear menjadi jauh lebih kokoh sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat (landing).
Tidak hanya dalam dunia kedirgantaraan, peran Habibie juga terlacak pada perekonomian Indonesia. Pada ekonomi makro, dikenal Habibienomics.
Habibienomics adalah gagasan Habibie mengenai pemberian nilai tambah ekonomi tinggi pada setiap produksi barang dan jasa melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Inti dari Habibienomics adalah industrialisasi dengan cara melibatkan negara secara aktif dalam penguasaan teknologi sebagai motor penggerak pembangunan.
Dengan peran vitalnya pada bidang kedirgantaraan dan perekonomian, tidak salah bila Habibie dianggap sebagai legenda hidup cendekiawan Indonesia. Cerdas, visioner, dan tangguh adalah sifat-sifatnya yang perlu bangsa Indonesia tiru. 

3. Pesawat Terbang dengan Two-Man Cockpit

 Temuan Indonesia
Dulu, satu unit pesawat terbang harus diawaki oleh setidaknya tiga hingga empat orang pilot dan kopilot. Namun, sejak adanya penemuan penyederhanaan kokpit, pesawat terbang  hanya perlu dikemudikan oleh dua orang.
Adalah Wiweko Soepono yang dikenal sebagai penemu pesawat komersil  two-man cockpit yang diterapkan pabrik Airbus Industrie. Pesawat pertama dengan kokpit dua awak diproduksi oleh pabrikan pesawat Eropa, Airbus, dengan seri A300-B4 FFCC (Forward Facing Crew Cockpit). A300-B4 inilah cikal bakal pesawat glass cockpit berawak dua yang kemudian terus digunakan hingga sekarang.
Pria kelahiran Blitar, Jawa Timur pada 18 Januari 1923 ini dulunya adalah Direktur Utama Garuda Indonesia pada periode 1968-1984. Meski merupakan Direktur Utama Garuda Indonesia, Wiweko sering menerbangkan pesawat armadanya sendiri.
Wiweko pernah menerbangkan pesawat turboprop (baling-baling) Beechcraft Super H-18 pada tahun 1965 melintasi Samudera Pasifik seorang diri. Ia take off dari pabrik Beechcraft di Wichita, Kansas, via Oakland, Amerika Serikat (7 Desember 1965) menuju Jakarta. Pengalamannya membuat Wiweko mengusulkan pesawat Super H-18 untuk menggunakan sistem terintegrasi untuk single pilot operation. Usulan ini diterima oleh Beechcraft selaku pabrikan pembuat Super H-18.
Pengalaman inilah yang membuat dirinya bersama staf Airbus Industrie, eksekutif perusahaan Roger Beteille, pilot uji Pierre Baud, serta staf lainnya membuat konsep penerbangan dengan dua awak pesawat. Konsep ini dibuat setelah uji coba dengan pesawat Airbus A-300B-4 memperlihatkan peran flight engineer yang tidak terlalu banyak. Dengan mengeliminasi peran flight engineer dan mengubah setting layout pada kokpit pesawat, diperoleh konsep FFCC (Forward Facing Crew Cockpit) yang memungkinkan pesawat kelas jumbo hanya diterbangkan oleh dua awak pesawat.
Konsep FFCC sangat ditentang pada saat itu, baik di dalam maupun di luar negeri. Namun kini konsep itu disempurnakan menjadi glass cockpit yang menjadi sebuah standar untuk pesawat sipil. Boeing yang semula menentang akhirnya menggunakan teknologi ini juga pada pesawat Boeing 747-400 dan Boeing 777. Nama glass cockpit juga dikenal sebagai Garuda cockpit yang sebelumnya dinamakan Wiweko cockpit.

4. Semiconductor Nanostructure Optoelectronics Devices dan High Power Semiconductor Lasers

 Temuan Indonesia
Adalah Prof. Nelson Tansu, Ph.D penemu dan pemegang paten dibidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers.  Penemuan tersebut sangat membantu dunia kesehatan dan kedokteran. Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 20 Oktober 1977 ini juga dikenal sebagai profesor termuda asal Indonesia di Amerika Serikat.
Nelson Tansu merupakan putra kedua dari pasangan ayah (Alm.) Iskandar Tansu dan ibu (Almh.) Auw Lie Min. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Medan. Tansu menyelesaikan pendidikan dari TK-SD-SMP-SMA di Yayasan Perguruan Sutomo 1 Medan, ia merupakan lulusan terbaik saat menyelesaikan pendidikan SMA pada Mei 1995. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan S1 sampai S3 di Universitas Wisconsin - Madison. Ia juga pernah menjadi finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI).
Namanya yang unik dan tidak mencirikan nama Indonesia sempat dikira sebagai orang Turki. Dugaan itu muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu Ciller, mantan perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah tidak segan-segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam blog/website Turki sebagai orang Turki seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari negeri Mustafa Kemal Ataturk.
Selain mengira orang Turki, ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok. Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia “kembali” mengajar di Jepang.
Nelson sekarang menjadi profesor di Lehigh University, Pensilvania. Selain itu, ia juga mengajar para mahasiswa di tingkat master (S2), doktor (S3), dan post doctoral Departemen Teknik Elektro dan Komputer pada kampus yang sama.
Lebih dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya telah dipublikasikan di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional. Ia juga sering diundang menjadi pembicara utama di berbagai seminar, konferensi, serta pertemuan intelektual, baik di berbagai kota di Amerika Serikat maupun negara-negara di luar Amerika Serikat seperti Kanada, negara-negara Eropa dan negara-negara Asia.
Prof.Nelson telah memperoleh sebelas penghargaan dan beberapa hak paten atas penemuan risetnya. Beberapa penemuan ilmiahnya yang telah dipatenkan di Amerika Serikat, yakni pada bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers.

5. Penemuan Kapal Ikan Bersirip

 Temuan Indonesia
Bila melihat gambar di atas, mungkin orang-orang yang belum akrab dengan perkembangan dunia maritim akan terheran-heran. Benda apakah ini?
Kenyataannya, ini adalah kapal ikan. Bentuknya yang terkesan futuristik merupakan hasil penemuan Alexander Kawilarang. Ya, peraih gelar doktor dari The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang (1993), ini adalah penemu teknologi kapal ikan bersirip. Temuannya ini sudah dipatenkan di Jepang.
Pria kelahiran Desa Kinilou, Tomohon, 13 Juni 1958, ini terilhami oleh ikan terbang antoni dalam menemukan teknologi perkapalan tersebut. Ikan tersebut dapat terbang jauh layaknya pesawat udara yang melayang rendah di atas permukaan air laut.
Pria bernama lengkap Prof. Dr. Ir. Alex Kawilarang Warouw Masengi, MSc kemudian mengamati bentuk tubuh dan sirip ikan terbang antoni (torani). Ketika melayang di atas permukaan air laut, tubuhnya terangkat melalui pergerakan sirip yang relatif panjang dan dorongan pergerakan tubuhnya sendiri.
Pakar teknik perkapalan perikanan ini berkesimpulan bahwa ikan antoni memiliki bentuk tubuh yang relatif unik, mulai dari kepala, badannya yang relatif montok, pergelangan ekornya serta seluruh siripnya. Bentuk tubuh dan sifat-sifat khas ikan antoni itulah yang kemudian ia terapkan ke dalam desain badan kapal ikan, berikut pemasangan sirip pada bagian lambung kapal. Hasilnya, tingkat kestabilan kapal ikan relatif menjadi lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jenis kapal ikan konvensional.

Demikian semoga bermanfaat 

Sumber Informasi  : Baca disini

No comments:

Post a Comment