Kita seringkali merasa pesimis dengan
kondisi bangsa yang seakan-akan penuh dengan kepentingan dan sandiwara,
baik dalam bentuk sinetron maupun debat politik di televisi. Kebanyakan
berita pun menimbulkan tendensi negatif yang seakan-akan mengubur rasa
optimisme terhadap kemajuan bangsa. Tindak kriminal semacam pencurian,
pemerkosaan, dan pembunuhan kerap kali menghiasi layar kaca. Seperti
itukah gambaran keseluruhan bangsa kita? Tidak adakah hal positif yang
dapat diangkat dari bangsa ini?
Sejatinya,
Indonesia tidak akan pernah kehabisan kecerdasan sumber daya
manusianya. Itulah faktanya. Meskipun belum tentu minum obat masuk angin
cair yang terstandardisasi, mereka dan temuannya adalah bukti nyata
sumbangsih bangsa Indonesia untuk kelanjutan peradaban dunia khususnya
pada bidang teknologi. Mereka dan temuannya hanya perlu 'ditemukan',
diberikan 'panggung' untuk memperlihatkan hasil temuan mereka.
Siapa sajakah mereka? Kami akan menyajikannya untuk Anda. Berikut 5 Temuan Indonesia untuk Dunia!
1. Penemuan Teknologi 4G

Teknologi
komunikasi semakin mengalami kemajuan berarti. Salah satunya ialah
teknologi 4G yang menawarkan sensasi kecepatan koneksi lebih baik
daripada ‘sekedar’ 3G apalagi Edge yang kini terasa begitu kuno. Namun,
siapakah penemunya?
Dialah Khoirul
Anwar. Sebagaimana dikutip dari Bisnis.com, Khoirul Anwar adalah alumni
Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung dengan predikat cum laude
pada tahun 2000. Tidak hanya menemukan teknologi 4G, ia juga sekaligus
merupakan pemilik hak paten teknologi komunikasi terdepan itu.
Lulus
dari ITB, Khorul melanjutkan pendidikannya di Nara Institute of Science
and Technology (NAIST) dan memperoleh gelar master di tahun 2005.
Setahun kemudian, penghargaan bertajuk “IEEE Best Student Paper Award of IEEE Radio and Wireless Symposium (RWS)”
diraihnya di California. Tiga tahun setelah menamatkan studi
pascasarjananya, pria ini meraih gelar doktornya pada almamater yang
sama, NAIST.
Masih dari ulasan
Bisnis.com, penemuan teknologi 4G berbasis OFDM diawalinya dari ide
mengurangi daya transmisi yang berguna untuk meningkatkan kecepatan
transmisi data. Penurunan daya dilakukan hingga 5dB saja (100.000 = 10
pangkat 5 kali lebih kecil dari teknologi sebelumnya). Hasilnya,
kecepatan transmisi jadi meningkat.
Pada paten keduanya, Khoirul Anwar kembali membuat dunia kagum. Kali ini adalah menghapus sama sekali guard interval/GI.
Tentu saja hal ini malah membuat frekuensi yang berbeda akan
bertabrakan alih-alih menambah kecepatan. Namun, anak Indonesia asal
Kediri mengompensasi risiko tersebut dengan mengembangkan algoritma
khusus di laboratorium. Hasilnya interferensi tersebut dapat diatasi
dengan unjuk kerja yang sama seperti sistem biasa yang menggunakan GI.
Asisten
Profesor di Japan Advance Institute of Science and Technologi (JAIST)
School of Information Science ini terus mengasah kemampuannya. Meski
berprestasi cemerlang di Jepang, Khoirul Anwar masih menyimpan keinginan
untuk kembali ke Indonesia jika telah menjadi salah satu tokoh
terkemuka di bidang telekomunikasi.
2. Teori ‘Crack’ pada Pesawat

Apabila
pernah menonton film Habibie & Ainun, Anda tentu teringat satu hal
menarik dalam salah satu adegannya. Dalam film yang dibintangi oleh Reza
Rahardian dan Bunga Citra Lestari tersebut, terdapat satu adegan dimana
Ainun (diperankan oleh Bunga) memegang potongan artikel tentang Habibie
sebagai penemu teori keretakan pesawat. Teori itulah yang membuat
Habibie dikenal sebagai “Mr.Crack”.
Habibie dikenal sebagai Mr.Crack karena keahliannya menghitung crack propagation on random
sampai ke atom-atom pesawat terbang. Dunia ilmu pengetahuan dan
teknologi, khususnya teknologi kedirgantaraan, kemudian mengenal hal ini
sebagai Teori Habibie, Faktor Habibie, atau Fungsi Habibie.
Sebelum titik crack
bisa dideteksi secara dini, para insinyur mengantisipasi kemungkinan
muncul keretakan konstruksi dengan cara meninggikan faktor
keselamatannya (Safety Factor/SF). Caranya ialah dengan meningkatkan kekuatan bahan konstruksi pesawat, yaitu baja, jauh di atas angka kebutuhan teoritisnya.
Peningkatan
kekuatan material konstruksi tentu menimbulkan konsekuensi berupa massa
pesawat yang lebih berat. Kekurangan ini disiasati dengan penggunaan
campuran aluminium dengan baja sebagai material utama pesawat. Sifat
aluminium yang ringan dan baja yang kuat dipercaya merupakan solusi atas
konstruksi pesawat yang kuat namun tetap ringan.
Setelah titik crack
bisa dihitung, derajat SF bisa diturunkan. Misalnya dengan memilih
campuran material sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Dalam fuselage
(tubuh pesawat) dan sayap pesawat, porsi baja semakin dikurangi.
Sebaliknya, penggunaan aluminium makin dominan. Dalam dunia
kedirgantaraan, terobosan ini dikenal dengan sebutan Faktor Habibie.
Faktor Habibie bisa meringankan operating empty weight
(bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10 persen
dari bobot sebelumnya. Bahkan, angka penurunan ini bisa mencapai 25
persen setelah Habibie menyusupkan material berupa karbon komposit ke
dalam fuselage.
Namun pengurangan berat ini tak membuat maximum take off weight
(total bobot pesawat ditambah penumpang dan bahan bakar) ikut merosot.
Dengan begitu, secara umum daya angkut pesawat meningkat dan daya
jelajahnya makin jauh.
Faktor Habibie
ternyata juga punya peran dalam pengembangan teknologi penggabungan
bagian per bagian dari kerangka pesawat. Dengan perhitungan titik crack yang akurat, teknologi sambungan antara fuselage yang berbentuk silinder dan sisi sayap yang berbentuk oval dapat terus dikembangkan mampu menahan tekanan udara saat pesawat take off (lepas landas). Begitu juga pada titik sambungan antara badan pesawat dan landing gear menjadi jauh lebih kokoh sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat (landing).
Tidak hanya dalam dunia kedirgantaraan, peran Habibie juga terlacak pada perekonomian Indonesia. Pada ekonomi makro, dikenal Habibienomics.
Habibienomics
adalah gagasan Habibie mengenai pemberian nilai tambah ekonomi tinggi
pada setiap produksi barang dan jasa melalui pemanfaatan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Inti dari Habibienomics adalah
industrialisasi dengan cara melibatkan negara secara aktif dalam
penguasaan teknologi sebagai motor penggerak pembangunan.
Dengan
peran vitalnya pada bidang kedirgantaraan dan perekonomian, tidak salah
bila Habibie dianggap sebagai legenda hidup cendekiawan Indonesia.
Cerdas, visioner, dan tangguh adalah sifat-sifatnya yang perlu bangsa
Indonesia tiru.
3. Pesawat Terbang dengan Two-Man Cockpit

Dulu,
satu unit pesawat terbang harus diawaki oleh setidaknya tiga hingga
empat orang pilot dan kopilot. Namun, sejak adanya penemuan
penyederhanaan kokpit, pesawat terbang hanya perlu dikemudikan oleh dua
orang.
Adalah Wiweko Soepono yang dikenal sebagai penemu pesawat komersil two-man cockpit
yang diterapkan pabrik Airbus Industrie. Pesawat pertama dengan kokpit
dua awak diproduksi oleh pabrikan pesawat Eropa, Airbus, dengan seri
A300-B4 FFCC (Forward Facing Crew Cockpit). A300-B4 inilah cikal bakal
pesawat glass cockpit berawak dua yang kemudian terus digunakan hingga
sekarang.
Pria kelahiran Blitar, Jawa
Timur pada 18 Januari 1923 ini dulunya adalah Direktur Utama Garuda
Indonesia pada periode 1968-1984. Meski merupakan Direktur Utama Garuda
Indonesia, Wiweko sering menerbangkan pesawat armadanya sendiri.
Wiweko
pernah menerbangkan pesawat turboprop (baling-baling) Beechcraft Super
H-18 pada tahun 1965 melintasi Samudera Pasifik seorang diri. Ia take off
dari pabrik Beechcraft di Wichita, Kansas, via Oakland, Amerika Serikat
(7 Desember 1965) menuju Jakarta. Pengalamannya membuat Wiweko
mengusulkan pesawat Super H-18 untuk menggunakan sistem terintegrasi
untuk single pilot operation. Usulan ini diterima oleh Beechcraft selaku pabrikan pembuat Super H-18.
Pengalaman
inilah yang membuat dirinya bersama staf Airbus Industrie, eksekutif
perusahaan Roger Beteille, pilot uji Pierre Baud, serta staf lainnya
membuat konsep penerbangan dengan dua awak pesawat. Konsep ini dibuat
setelah uji coba dengan pesawat Airbus A-300B-4 memperlihatkan peran flight engineer yang tidak terlalu banyak. Dengan mengeliminasi peran flight engineer dan mengubah setting layout pada kokpit pesawat, diperoleh konsep FFCC (Forward Facing Crew Cockpit) yang memungkinkan pesawat kelas jumbo hanya diterbangkan oleh dua awak pesawat.
Konsep FFCC sangat ditentang pada saat itu, baik di dalam maupun di luar negeri. Namun kini konsep itu disempurnakan menjadi glass cockpit
yang menjadi sebuah standar untuk pesawat sipil. Boeing yang semula
menentang akhirnya menggunakan teknologi ini juga pada pesawat Boeing
747-400 dan Boeing 777. Nama glass cockpit juga dikenal sebagai Garuda cockpit yang sebelumnya dinamakan Wiweko cockpit.
4. Semiconductor Nanostructure Optoelectronics Devices dan High Power Semiconductor Lasers

Adalah Prof. Nelson Tansu, Ph.D penemu dan pemegang paten dibidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers.
Penemuan tersebut sangat membantu dunia kesehatan dan kedokteran. Pria
kelahiran Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 20 Oktober 1977 ini juga
dikenal sebagai profesor termuda asal Indonesia di Amerika Serikat.
Nelson
Tansu merupakan putra kedua dari pasangan ayah (Alm.) Iskandar Tansu
dan ibu (Almh.) Auw Lie Min. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Medan.
Tansu menyelesaikan pendidikan dari TK-SD-SMP-SMA di Yayasan Perguruan
Sutomo 1 Medan, ia merupakan lulusan terbaik saat menyelesaikan
pendidikan SMA pada Mei 1995. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan S1
sampai S3 di Universitas Wisconsin - Madison. Ia juga pernah menjadi
finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI).
Namanya
yang unik dan tidak mencirikan nama Indonesia sempat dikira sebagai
orang Turki. Dugaan itu muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili
Tansu Ciller, mantan perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters
malah tidak segan-segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam
blog/website Turki sebagai orang Turki seolah-olah mereka yakin betul
bahwa fisikawan belia yang mulai berkibar di lingkaran akademisi AS itu
memang berasal dari negeri Mustafa Kemal Ataturk.
Selain
mengira orang Turki, ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang
Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok. Yang lebih seru, beberapa
universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta
dia “kembali” mengajar di Jepang.
Nelson
sekarang menjadi profesor di Lehigh University, Pensilvania. Selain
itu, ia juga mengajar para mahasiswa di tingkat master (S2), doktor
(S3), dan post doctoral Departemen Teknik Elektro dan Komputer pada kampus yang sama.
Lebih
dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya telah dipublikasikan di
berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional. Ia juga sering
diundang menjadi pembicara utama di berbagai seminar, konferensi, serta
pertemuan intelektual, baik di berbagai kota di Amerika Serikat maupun
negara-negara di luar Amerika Serikat seperti Kanada, negara-negara
Eropa dan negara-negara Asia.
Prof.Nelson
telah memperoleh sebelas penghargaan dan beberapa hak paten atas
penemuan risetnya. Beberapa penemuan ilmiahnya yang telah dipatenkan di
Amerika Serikat, yakni pada bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers.
5. Penemuan Kapal Ikan Bersirip

Bila
melihat gambar di atas, mungkin orang-orang yang belum akrab dengan
perkembangan dunia maritim akan terheran-heran. Benda apakah ini?
Kenyataannya,
ini adalah kapal ikan. Bentuknya yang terkesan futuristik merupakan
hasil penemuan Alexander Kawilarang. Ya, peraih gelar doktor dari The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang (1993), ini adalah penemu teknologi kapal ikan bersirip. Temuannya ini sudah dipatenkan di Jepang.
Pria
kelahiran Desa Kinilou, Tomohon, 13 Juni 1958, ini terilhami oleh ikan
terbang antoni dalam menemukan teknologi perkapalan tersebut. Ikan
tersebut dapat terbang jauh layaknya pesawat udara yang melayang rendah
di atas permukaan air laut.
Pria
bernama lengkap Prof. Dr. Ir. Alex Kawilarang Warouw Masengi, MSc
kemudian mengamati bentuk tubuh dan sirip ikan terbang antoni (torani).
Ketika melayang di atas permukaan air laut, tubuhnya terangkat melalui
pergerakan sirip yang relatif panjang dan dorongan pergerakan tubuhnya
sendiri.
Pakar teknik perkapalan
perikanan ini berkesimpulan bahwa ikan antoni memiliki bentuk tubuh yang
relatif unik, mulai dari kepala, badannya yang relatif montok,
pergelangan ekornya serta seluruh siripnya. Bentuk tubuh dan sifat-sifat
khas ikan antoni itulah yang kemudian ia terapkan ke dalam desain badan
kapal ikan, berikut pemasangan sirip pada bagian lambung kapal.
Hasilnya, tingkat kestabilan kapal ikan relatif menjadi lebih tinggi
apabila dibandingkan dengan jenis kapal ikan konvensional.
Demikian semoga bermanfaat
Sumber Informasi : Baca disini
No comments:
Post a Comment