Benteng Pendem Cilacap adalah salah satu benteng peninggalan Belanda di
pesisir pantai Teluk Penyu kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang dibangun
pada tahun 1861. Bangunan kokoh ini digunakan sebagai zona pertahanan
militer Belanda di wilayah selatan pulau Jawa. Bangunan ini merupakan
bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun di area
seluas 6,5 hektare secara bertahap selama 18 tahun, dari tahun 1861
hingga 1879. Saat ini, pemerintah Kabupaten Cilacap menjadikan benteng
ini sebagai tempat wisata sejarah.
Benteng Pendem berada di kawasan lahan milik Pertamina. Untuk masuk ke
dalam Benteng, pengunjung yang masuk ke kawasan wisata Teluk Penyu harus
membayar tiket 4.000 per orang, sedangkan tiket kendaraan sebesar
5.000. Akses menuju Benteng Pendem sangat mudah, dari terminal Cilacap,
anda hanya naik satu kali angkot yang turun di dekat pintu masuk ke
Teluk Penyu, karena Benteng Pendem dan Teluk ini berada dalam satu
lokasi.
Benteng Pendem letaknya sangat strategis sebagai pertahanan bagi
Belanda. Dari samudera Hindia, Benteng Pendem tidak kelihatan, karena
tersembunyi di balik pulau Nusakambangan. Benteng Pendem juga menghadap
langsung ke laut sehingga Belanda dapat melakukan aksi pengawasan gerak
gerik musuh dan pengintaian kapal-kapal yang hendak mendekat.
Nama Benteng Pendem diambil dari bahasa Jawa “pendem” yang berarti
“terpendam”. Struktur bangunan benteng memang terpendam di dalam tanah
sedalam 3,5 m. Benteng Pendem dikelilingi oleh parit dan terisi air
sedalam sekitar 3 m. Konon pada jaman dahulu lebar parit sekitar 18 m
dengan kedalaman 3 m. Saat ini lebar paritnya hanya 5 m dengan kedalaman
1-2 m. Fungsi parit yang utama adalah melindungi benteng, menghambat
laju musuh, patroli keliling menggunakan perahu kecil, dan tempat
pembuangan air dari terowongan.
Benteng Pendem didesain oleh arsitek Belanda. Benteng ini difungsikan
untuk menahan serangan yang datang dari arah laut bersama dengan Benteng
Karang Bolong, Benteng Klingker, dan Benteng Cepiring. Benteng Pendem
digunakan hingga tahun 1942. Ketika perang melawan pasukan Jepang,
benteng ini berhasil dikuasai Jepang. Tahun 1945, Jepang meninggalkan
benteng ini karena kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu;
sehingga benteng ini diambil alih oleh TNI Banteng Loreng Kesatuan Jawa
Tengah. Dalam penguasaan TNI, benteng ini digunakan para pejuang
kemerdekaan berlatih perang dan pendaratan laut.
Ruangan
Bangunan benteng pendem terdiri dari beberapa ruang yang masih kokoh
hingga kini. Salah satunya adalah ruangan yang berfungsi sebagai barak
yang dibangun pada tahun 1877 dan terdiri dari 14 ruang. Tiap ruang bisa
menampung sekitar 30 prajurit. Dua ruang terakhir yang lebih luas
digunakan sebagai ruang untuk para komandan.
Selain itu juga terdapat ruangan yang berfungsi sebagai klinik yang dibangun tahun 1879 oleh Belanda dan difungsikan juga oleh tentara Jepang saat menduduki Indonesia. Bangunan ini terdiri dari ruang tindakan dan perawatan pasien.
Terdapat ruang penjara seluas 6 m2 yang dibangun pada 1869. Difungsikan sebagai tempat penahanan pertama atau ruang interogasi. Di dalamnya terdapat lingkar besi yang menempel dinding. Gunanya untuk memborgol tahanan dengan posisi tangan terbentang, atau bahkan lebih ekstrim lagi dengan kaki terbentang pula.
Pada bagian terdapat terowongan sepanjang 50 m yang dibangun tahun 1869. Fungsinya sebagai tempat pengiriman senjata dan penyelamatan tentara Belanda melalui bawah tanah menuju laut. Lubang sniper dibangun pada tahun 1873. Di dalam terowongan terdapat ruang penjara untuk mengeksekusi tahanan dengan menggunakan senjata laras pendek. Ruang tersebut berukuran 1,5 x 2,5 m.
Selain itu juga terdapat ruangan yang berfungsi sebagai klinik yang dibangun tahun 1879 oleh Belanda dan difungsikan juga oleh tentara Jepang saat menduduki Indonesia. Bangunan ini terdiri dari ruang tindakan dan perawatan pasien.
Terdapat ruang penjara seluas 6 m2 yang dibangun pada 1869. Difungsikan sebagai tempat penahanan pertama atau ruang interogasi. Di dalamnya terdapat lingkar besi yang menempel dinding. Gunanya untuk memborgol tahanan dengan posisi tangan terbentang, atau bahkan lebih ekstrim lagi dengan kaki terbentang pula.
Pada bagian terdapat terowongan sepanjang 50 m yang dibangun tahun 1869. Fungsinya sebagai tempat pengiriman senjata dan penyelamatan tentara Belanda melalui bawah tanah menuju laut. Lubang sniper dibangun pada tahun 1873. Di dalam terowongan terdapat ruang penjara untuk mengeksekusi tahanan dengan menggunakan senjata laras pendek. Ruang tersebut berukuran 1,5 x 2,5 m.
Demikian Semoga bermanfaat



No comments:
Post a Comment